image

Kretek, minumlah selaloe

Adalah sebuah tagline yang dipakai oleh perusahan rokok kretek pertama di Kudus untuk mengiklankan kreteknya. Niti Semito, yang sekarang dikenal sebagai Raja Kretek. Beliau orang pertama yang mendirikan perusahaan rokok kretek, membangun dan mengembangkan industri kretek di Kudus.

Kretek Klobot

Kretek sendiri ditemukan oleh Haji Jamhuri, di mana tanpa sengaja mencampur tembakau dengan cengkeh untuk melegakan tenggorokannya yang disebabkan oleh batuk. Haji Jamhuri mungkin tidak menyadari bahwa racikannya akan mendunia serta mengantarkan Kudus sebagai kota kretek. Kretek sendiri diambil dari bunyi yang dihasilkan saat rokok tersebut dibakar “kretek, kretek”. Pada awalnya rokok kretek dibuat secara tradisional dan rumahan, dengan menggunakan kulit janggung yang dikeringkan atau yang biasa disebut klobot sebagai pembungkusnya.

Sigaret Kretek Tangan

Sampai di tahun 1906, Niti Semito merintis industri kretek tangan pertama. Saya sangat kagum dengan Pak Niti Semito karena di tahun tersebut beliau sudah melakukan promosi yang dibilang sangat modern. Memilih tagline yang mudah diingat, bekerja sama dengan penjaja makanan keliling dengan membuatkan gerobak dengan logo perusahaan, memakai mobil keliling, memberikan gimmick bahkan mensponsori sebuah pertunjukan seni daerah. Promosi ini dilakukan sampai ke luar kota Kudus. Niti Semito dengan kretek “Bal Tiga”nya dapat menghidupi 10000 karyawannya. Keberhasilan Bal Tiga membawa banyak perusahaan kretek di Kudus mulai berkembang pesat dan rata-rata kretek dulu menggunakan merk dengan mengambil dari nama buah-buahan seperti Sukun, Djambu Bol, Delima dan banyak lainnya dengan cap logo khas berbentuk belah ketupat. Masih banyak perusahaan rokok yang berdiri sampai dengan saat ini, diantaranya Nojorono dan Djarum.

Warung Rokok Tempo Doeloe

Jika berkunjung ke kota Kudus, sempatkan datang ke Museum Kretek Kudus. Anda akan diajak melihat lahirnya sebuah tradisi, perkembangan kretek dari masa ke masa. Di Museum ini terdapat diorama pembuatan Kretek Klobot sampai dengan pembuatan Sigaret Kretek Tangan dan Mesin. Selain itu banyak ditampilkan informasi mengenai jenis tembakau dan cengkeh yang biasa digunakan oleh Perusahaan Kretek dalam pembuatan Kretek-nya. Dan pengunjung bisa menonton film dokumenter tentang Kota Kudus, film ini hanya diputar di 2 tempat saja yaitu di Museum Kudus dan untuk keperluan Djarum. Museum ini didirikan pada tahun 1986 dan digagas oleh Perkumpulan Perusahaan Kretek di Kudus sampai di tahun 2007, diberikan ke pemerintah kota Kudus.

 

Museum Kretek

Di komplek museum juga terdapat rumah adat Kudus, yang dinamakan Gebyok atau Joglo Pencuk dan terbuat dari kayu jati. Rumah yang dibangun dengan menggunakan sistim bongkar pasang tanpa paku, sehingga memudahkan empunya rumah apabila harus berpindah tempat. Dan biasanya selalu menghadap ke arah Selatan, membelakangi gunung Muria agar pemilik rumah tidak mengalami kehidupan yang berat. Joglo Pencuk terdiri dari 3 ruangan besar yaitu Joglo Satru (ruang tamu), Gedongan (ruang keluarga dan kamar tidur) serta Pawon (ruang makan dan dapur).

Rumah Adat Kudus

Rumah adat Kudus kental dengan akulturasi seni ukir budaya Islam (Persia), Cina, Eropa dan Indonesia. Dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah 3D dan 4D yang bermakna dan mengandung nilai filosofi hidup. Diantaranya pada Joglo Satru (ruang tamu) terdapat satu tiang penyangga yang disebut Soko Gender sebagai simbol Ketuhanan Yang Esa (Tunggal). Pada Gedongan terdapat 4 buah soko guru yang melambangkan agar penghuninya dapat mengendalikan 4 sifat manusia; amarah, lawamah (mengoreksi diri sendiri), shofiyah (kelembutan hati) dan mutmainah (dorongan untuk berbuat kebajikan). Letak kamar mandi di sisi luar juga mempunyai makna pembersihan diri. Uniknya tanaman yang tumbuh di halaman juga punya makna sendiri. Pohon belimbing dengan buah 5 seginya untuk mengingatkan penghuninya akan 5 rukun Islam. Selain itu tumbuhan pandan wangi yang mendominasi halaman, agar penghuninya tetap wangi dan harum. Anda dapat menemukan Museum Kretek di Jalan Getas Pejaten 155,  no telp (0291) 440545 dan buka setiap hari dari pukul 7.30 – 15.30 wib.

Soto Bu Jatmi

Rasanya belum afdol kalau mampir ke satu daerah tanpa mencicip makanan khasnya. Mencicip Soto Kudus langsung dari kotanya sendiri. Soto Kudus dengan isian pilihan daging ayam dan daging kerbau. Saya memilih daging kerbau sebagai isian sotonya. Dagingnya terasa lembut, kuah dari Soto rasanya sedikit manis tinggal tambahkan perasan jeruk nipis dan taburan garam untuk menambah rasanya. Kami mencicip Soto Kudus Bu Jatmi yang terletak di jalan KH Wachid Hasyim 43, Kudus.

Menara Kudus

Selain kreteknya yang melegenda, Kudus juga terkenal akan walinya yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Rasanya belum pas kalau belum melihat menara Kudus, menara yang terbuat dari bata merah berbentuk candi dan di dindingnya ditempatkan keramik-keramik cina. Persis seperti Joglo Pencuk, merupakan akulturasi budaya Hindu, Islam dan Cina. Belum diketahui jelas dan pasti siapa yang membangun menara Kudus, apakah Sunan Kudus sendiri atau bangunan itu sudah lama berdiri jauh sebelum kedatangan Sunan Kudus. Di pemukiman sekeliling menara, tampak jelas akulturasi budaya dari rumah-rumah yang berdiri. Dengan atap-atap khas Cina serta bangunan yang bernuansa Eropa. Sayang, saat saya berkunjung cuaca sedang sangat panas sehingga saya mengurungkan niat untuk berkeliling.

Saya jadi teringat akan ucapan Mbak Nawang, tour guide kami di Museum bahwa dulu masyarakat Kudus menjunjung tinggi perbedaan dan kebersamaan. Semoga kearifan lokal tersebut tetap hadir di tengah masyarakat Kudus masa kini.

Kudus, kota kretek yang tak akan terlupakan.

::just an ordinary me::

Advertisements