selamanya kita
tak akan berhenti mengejar matahari

Setelah puas dengan wisata sejarah dan alam serta kulineran, saatnya kami mengejar matahari! Sejak sehari sebelumnya, hujan selalu turun di Dieng, kami mulai khawatir dengan rencana kami melihat matahari terbit dari Puncak Gunung Sikunir. Tapi kami tetap semangat dan yakin, kalau esok akan cerah. Setelah berisitirahat cukup, tepat pukul 0230 wib, saya mulai mempersiapkan diri dan “maksa” mandi pagi.

Gimana nggak galau, lihat langit segalau ini :p

Menurut jadwal, kami akan berangkat ke Gunung Sikunir pukul 0300 wib, sampai dengan pukul 0330 wib belum ada keramaian di depan penginapan kami. Saya dan beberapa teman mulai ragu kalau tidak jadi melakukan pendakian ke Gunung Sikunir. Bus pertama pun tiba sekitar pukul 0400 wib, horeeee jadi berangkat. Tapiiii busnya masih kurang banyak, terpaksa kami harus menunggu bus yang lainnya tiba 😦  Adzan Shubuh mulai berkumandang, banyak teman-teman yang mulai gelisah, termasuk saya, karena takut tidak terkejar melihat matahari terbit. Belum lagi harus menahan cuaca yang dinginnya sampai bikin linu. Kira-kira pukul 0500 wib kurang, bus mulai berdatangan, saya, Mbak Mia, Mbak Olin dan Tiwi langsung mengambil langkah seribu mencari posisi uenak 😀

Selama perjalanan, walau masih mengantuk dan dihadang was-was, kami berusaha untuk selalu ceria dan foto-foto *tetep*. Jalan menuju puncak Gunung Sikunir memacu adrenalin, jalanan mulai berbatu dan tidak beraspal, belum lagi jalanan yang hanya 1 arah dan cukup untuk 1 bus dan terus diselimuti kabut. Akhirnya kami tiba di titik pendakian akhir, jaraknya kurang lebih 1,5 km menuju puncak Gunung Sikunir.

Shining Through

Dengan kecepatan tinggi, guna mengejar ketertinggalan dan tetap memerhatikan keselamatan pastinya, kami memulai pendakian mengejar matahari. Udara mulai terasa tipis, sehingga ada beberapa teman yang memutuskan untuk istirahat sejenak. Keinginan kuat untuk melihat Matahari terbit yang membuat saya tetap semangat naik ke puncak, walau nafas sudah mulai tersenggal-senggal. Setelah beberapa menit berjalan, semburat kuning mulai tampak di sela-sela dedaunan.

Perasaan bahagia dan bersyukur saat melihat indahnya warna-warna yang ditorehkan oleh Sang Maha Kuasa, hanya mata dan hati yang terus mengucap keagungan-Nya. Perjalanan sempat tersendat dikarenakan banyak teman-teman yang berhenti untuk sekadar mengabadikan momen yang sayang untuk dilewatkan. Teriakan-teriakan teman-teman lain yang meminta untuk terus berjalan, kembali menggerakkan kaki kami menuju titik akhir yaitu Puncak Gunung Sikunir.

Selamat Pagi!

Gunung Sikunir, memang tempat favorit bagi siapapun yang ingin melihat matahari terbit di Dataran Tinggi Dieng. Tiba di puncak, kabut mulai menebal. Matahari seakan enggan untuk menampakkan dirinya. Layaknya keajaiban yang selalu melingkupi kami, secara tiba-tiba Sang Surya kembali menampakkan diri, langit pun cerah. Puncak Gunung Sindoro mulai terlihat jelas di hadapan kami. Oia apabila langit sedang cerah dan tidak berkabut, dari Puncak Gunung Sikunir kita bisa melihat Gunung Sindoro, Sumbing dan Merbabu secara bersamaan. Pasti indah banget kalau bisa melihat ketiga gunung tersebut berdampingan dalam satu kali pandangan mata.

Puncak Gn. Sindoro di kejauhan

Kebersamaan ~ Photo by Mia Fiona

Waktu seakan berhenti saat kami berada di puncak, tak terasa sudah waktunya kami harus segera kembali ke Penginapan dan bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan menuruni Gunung Sindoro sama sulitnya saat menaiki karena jalanan yang licin sehabis hujan. Kami harus berhati-hati dalam melangkah. Serunya, kami tak mau ketinggalan untuk terus berfoto-foto di berbagai spot Hahahaha intinya nggak mau rugi, pemandangan indah ini terlalu sayang untuk dibiarkan sendirian :p.

Layaknya Dewa Dewi yang menjadikan Dieng sebagai tempat bersemayam, kami pun sudah menjadi Dewa Dewi walau hanya untuk beberapa hari saja. Menjadi Dewi di Negeri di Awan, menggapai sebuah nirwana.

Getaran dirimu hangat terasa, kau bawa secercah sinar abadi. Dan ku terbuai dalam langkahmu. Kau selalu terbayang. Oh Nirwana.

::just an ordinary me::

Advertisements