Bersama Kabut

Perjalanan saya untuk menggapai negeri di awan belum berakhir, setelah menikmati kemisteriusan candi-candi di Komplek Candi Arjuna dan menyaksikan keajaiban Kawah Sikidang kami pun melanjutkan perjalanan. Dengan ditemani kabut tipis, kami melangkahkan kaki menuju Telaga Warna.

Kondisi alam di Dieng, memungkinkan kabut selalu turun kapan saja. Oleh karena itu Dieng juga dikenal sebagai Negeri Di Awan, Negeri Di Bawah Kabut. Kami pun merasakan sendiri saat kabut mulai melingkupi kami, kami seperti berada di atas awan ๐Ÿ™‚

Telaga Warna, letaknya yang tersembunyi di antara bukit-bukit memberikan kemisteriusan sendiri dan selalu memikat siapapun yang datang berkunjung ke Dieng. Dengan hanya membayar tiket masuk seharga Rp. 5.000 kami sudah bisa menikmati keelokan Telaga Warna. Masuk melalui gerbang utama, kami langsung menelusuri paving block yang kiri kanannya dirimbuni pepohonan. Tepat di pertigaan, Telaga Warna mulai menunjukkan kecantikannya. Konon kenapa namanya Telaga Warna karena warna airnya berubah-ubah sesuai dengan kandungan sulfur yang terkandung di dalamnya. Saat kami di sana, warna airnya dominan hijau pupus, ada beberapa area yang warna hijaunya sedikit berbeda.

Telaga Warna

Telaga Warna

Reflection

Reflection

Air di Telaga ini sangat jernih sehingga memantulkan apa saja yang ada di atasnya. Sangat disayangkan, setibanya kami di Telaga Warna hujan deras mengguyur sehingga kami harus berteduh. Tapiiii itu tidak menyurutkan kami untuk terus berkenalan dengan si cantik, dengan berbekal payung dan jaket, kami pun menantang gerimis. Kami meneruskan menelusuri paving block, saat berbelok kami dikejutkan akan sebuah pemandangan. Kami tiba-tiba dihadapkan dengan padang rumput dan rawa dengan dilatarbelakangi pegunungan dan pohon-pohon tinggi di sisi kiri kami.

Setelah puas dengan sesi foto eh maksudnya menelusuri Telaga Warna, kami pun memutuskan untuk wisata kuliner dengan mencicipi Mie Ongklok yang terkenal. Sebenarnya ada warung Mie Ongklok yang terkenal di Dieng berhubung naga-naga di perut sudah pada teriak marah, walhasil kami memilih warung Mie Ongklok yang letaknya persis di depan gerbang Telaga Warna. Yang membedakan Mie Ongklok dengan mie lain adalah dari olahannya. Dengan berbahan dasar mie kuning dan sayuran, mie ditata di sebuah saringan dan dicelup-celupkan ke air panas atau dalam bahasa sananya “diongklok-ongklok” bersama dengan kubis dan kucai mentah. Lalu disiram dengan dua macam kuah, kuah kental yang pertama berwarna cokelat dan kuah ke dua adalah bumbu kacang. Mie Ongklok ini biasanya disajikan dengan seporsi sate sapi hanya kemarin saya dapat Mie nya saja karena yang jualan lagi pusing sendiri kebanyakan tamu. Seporsi Mie Ongklok biasanya dibandrol sekitar Rp 4.000 – Rp 7.000.

Mie Ongklok

Mie Ongklok

Pesta Durian

Sebenarnya masih ada satu tempat yang harus kami kunjungi yaitu Dieng Plateu Theatre karena waktunya sudah sore dan kami pun sudah lelah khususnya dengan cuaca yang segalau-galaunya, kami pun memutuskan kembali ke home stay. Saat perjalanan kembali ke penginapan, kami pun tergoda untuk mencicipi Durian, walaupun sepertinya durian ini bukan asli Dieng tapi setidaknya durian ini obat manjur menghalau dingin *alah alasannya bisa aja Hahaha* Setelah melalui pertarungan sengit dalam tawar menawar, kami berhasil mendapatkan 1 buah durian besar hanya dengan Rp 35.000.

Rasanya nggak afdol kalau berkunjung ke satu tempat tidak mencoba kulinernya, setelah mencicip Mie Ongklok saya pun bergerilya mencari tahu di mana bisa mendapatkan kudapan khas Dieng. Dari Bapak guide kami, kami pun diajak ke industri rumahan yang membuat dan menjual langsung kudapan. Dengan semangat 45, tanpa memedulikan udara dingin yang semakin menusuk, saya dan beberapa teman langsung menuju ke rumah tersebut. Belum lagi hujan deras mulai turun kembali, syukurnya tempat tersebut tidak jauh dari penginapan. Saat tiba, rumahnya sudah dipadati oleh teman-teman seperjalanan lainnya, sempat khawatir tidak kebagian kudapannya. Setelah mencicipi sample yang disiapkan si empunya rumah, saya pun memborong kripik jamur, kripik kentang, kacang dieng serta manisan carica. Walhasil saya repot sendiri saat membawa kembali ke penginapan Hahahaha. Buat yang bingung Carica itu seperti apa, gugling aja ya hehehehe yang pasti bentuknya seperti perpaduan buah pepaya dan paprika, nah tuh pikir sendiri. Saya jadi teringat, ucapan Tiwi saat di Dieng, dia bilang “Dieng ini memang ajaib dan negeri khayangan banget, lihat aja semua yang ada di sini serba kelainan genetik. Mulai anak-anaknya yang gimbal, Carica yang bentuknya aneh, dan semua sayurannya yang ukurannya raksasa” Saya hanya bisa tertawa geli mendengar ucapannya, sambil mikir mungkin benar juga kali ya, khan Negeri tempat bersemayamnya para dewa dewi ๐Ÿ™‚

Sejujurnya kami semua was-was dengan cuaca Dieng yang sedang berubah-ubah. Rencana kami esok untuk melihat matahari terbit di puncak Gunung Sikunir sangat tergantung dengan cuaca. Layaknya keajaiban yang melingkupi wilayah ini, keajaiban pun mendatangi kami, seakan dewa dewi mengizinkan kami melihat Sang Surya di ufuk timur.

::just an ordinary me::

Advertisements