Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Sepenggal lirik lagu “Negeri di Awan” karya Katon Bagaskara mengiringi langkah saya dan teman-teman saya menuju Dieng Plateu. Sebuah dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dieng sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Di yang berarti tempat yang tinggi atau gunung dan Hyang yang berarti Dewa atau Khayangan sehingga Dieng disebut sebagai tempat para Dewa Dewi bersemayam.

Perjalanan ini dimulai jauh sebelum perjalanan menuju Dieng itu sendiri terjadi. Setelah mendapat invitasi Bang Arta dari Kaki Gatel yang butuh cepat untuk teman perjalanan, mulailah saya bergerilya mencari teman perjalanan lainnya. Respon tercepat pun datang dari sepupu saya Tiwi dan teman saya Mia. Kehebohan mulai terjadi saat diminta membayar cepat demi kelancaran perjalanan Hahahaha Singkat cerita kehebohan perihal pembayaran pun selesai sudah. Hebohnya berakhir di sini? Tentu tidaaaakkkkkkk, ini baru tahap awal perjalanan kami menggapai Negeri Di Awan.

Beberapa hari kemudian, email yang menggembirakan datang dari Mbak Olin, ketua Tim Exist saat di Tidung yang menginformasikan bahwa positif ikut ke Dieng. Sukses cabut dari kantor pukul 1700 wib, meluncur dengan taksi menuju Plaza Semanggi (titik keberangkatan kami) mengejar untuk bisa tiba jauh sebelum pukul 1900 wib. Dengan sibuk memantau Tiwi, yang belum pernah ke Plaza Semanggi, agar bisa tiba selamat tanpa nyasar. Selama perjalanan di Taksi gue sudah ribut agar kita sempat ke AW demi menukarkan voucher 😀

Pertanyaan terlintas apakah kita akan melalui jalur Utara atau Selatan pulau Jawa, terjawab saat masuk Tol Cipularang. Sebenarnya perjalanan menuju Wonosobo melalui jalur Selatan akan memakan waktu lebih lama dibanding lewat Utara, mengingat jalurnya yang panjang, berkelok-kelok dan naik turun. Mungkin jalur ini dipilih untuk menghindari macet dan kepadatan yang sering terjadi di jalur Utara, entah belum sempat tanya Pak Supir alasanya hehehe. Tidur selama perjalanan pun semakin afdol, dengan tangan dan kaki harus siaga menahan berat badan agar tidak jatuh ke samping (khususnya bagi yang duduk di gang) belum lagi Pak Supir yang melakukan manuver manuver hebat selama perjalanan.

Pagi Menyapa di Banjarnegara

Tiba di Wonosobo, kami pun berpindah ke bus ukuran kecil, seukuran metro mini, karena bus besar tidak bisa melewati jalanan menuju Dieng Plateu. Tarif bus kecil ini adalah Rp 8.000 (flat) dari Wonosobo menuju Dieng. Perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng kurang lebih memakan waktu sekitar 45 – 60 menit. Rasa lelah pun hilang seketika saat tiba di Kawasan Dataran Tinggi Dieng (DTD), mata kami disuguhi oleh pemandangan nan asri yang terhampar belum lagi udara dingin yang mulai terasa menusuk kulit.

Selama di Dieng, kami menginap di home stay Flamboyan. Beberapa teman lainnya menginap di Home Stay Lestari. Di kawasan Dieng ini banyak sekali pilihan Home Stay yang dikelola oleh penduduk sekitar jadi tak perlu khawatir nggak kebagian penginapan. Home staynya sendiri bersih, dengan kamar mandi di dalam (lengkap dengan air panas) serta tersedianya dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan mushola bahkan ada beberapa kamar yang sudah tersedia TV di dalam kamar. Bahkan ada beberapa Home Stay yang sudah menyediakan Free Wifi lho. Home stay Lestari ini yang paling terkenal di kalangan para backpacker, karena keramahan si empunya tapi Ibu Kos di Flamboyan juga tidak kalah ramah, malah seperti Ibu sendiri yang lagi ngurusin anak-anaknya. Nyaman bangetlah pokoknya 🙂 Oia ini nomor kontak dari Home Stay Lestari di hp 0852.282.72404 atau 0286.3342026 dan Home Stay Flamboyan di hp 081.327.605.040 atau 0286.3342040.

Home Stay Flamboyan, seperti di rumah sendiri khan 🙂

Badan segar setelah mandi pagi, perut pun sudah terisi saatnya perjalanan menjelajah DTD dengan berjalan kaki. Tujuan pertama kami adalah Kompleks Candi Arjuna, bagi wisatawan lokal tiket masuk komplek ini cukup dengan membayar Rp 6.000 dapat bonus masuk Kawah Sikidang juga. Candi ini dahulunya digunakan sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu. Tidak diketahui awal mula kenapa candi-candi ini diberi nama sesuai tokoh pewayangan. Terdapat 5 candi di dalam Komplek Candi Arjuna ini, candi utama yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembrada, Candi Puntasewa dan Candi Srikandi. Hamparan bunga, pepohonan dan kabut yang melingkupi komplek Candi memberi kesan misterius, hening dan damai, setidaknya itu yang saya rasakan. Belum lagi rumput menghijau yang menggoda kami untuk dijadikan spot foto, walhasil terjadi sesi foto seru dan gokil. Belum lagi kala itu cuaca Dieng sedang galau-galaunya panas, hujan, panas, gerimis sukses membuat galau semua pengunjungnya hehehe

Candi Srikandi, Puntasewa dan  Sembadra dari kejauhan

Candi Srikandi, Puntasewa dan Sembadra dari kejauhan

Photo session tahap awal

Photo session tahap awal

Selama perjalanan menuju Kawah Sikidang, selain menemukan spot foto (ini penting lho hihihi) kami juga menemukan 2 buah candi lagi yaitu Candi Gatot Kaca dan Candi Bima. Kawah Sikidang termasuk kawah vulkanik yang masih aktif dan konon hobi berpindah tempat, itulah kenapa namanya Sikidang, dari kata “kidang” yang berarti Kijang. Pemandangan hijau yang meliputi selama perjalanan menuju Kawah Sikidang pun mulai tergantikan dengan pemandangan tanah tandus. Mendekati Kawah Sikidang, bau belerang mulai menusuk, kami pun sampai harus memakai masker untuk kemudahan bernafas. Saya tidak sempat berjalan menuju Kawah utama karena tidak kuat dengan bau belerang yang semakin menusuk, belum lagi kondisi tanah yang rapuh.

    Di depan gerbang Kawah Sikidang. Perhatikan asap di belakang kami, sauna alam akibat sehabis hujan disinari panas matahari.

Di depan gerbang Kawah Sikidang. Perhatikan asap di belakang kami, sauna alam akibat sehabis hujan disinari panas matahari.

Sejenak setelah meluruskan kaki, kami pun siap melanjutkan perjalanan yang jauh lebih seru dan penuh warna menuju Telaga Warna nan eksotis dan mengejar matahari terbit keesokan harinya di Gunung Sikunir.

::just an ordinary me::

Advertisements