Batik Cirebon

Tak kenal maka tak sayang.

Sebuah ungkapan yang sering terlontar dikala kita ingin mengenali sesuatu. Itulah yang terlintas pertama kali saat saya diberi kesempatan untuk bisa mengenali Batik lebih dalam. Tidak hanya sekadar proses tapi sejarah serta perkembangan dari Batik itu sendiri. Batik, yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia.

Batik Jlamprang

Batik, istimewa karena proses panjang yang dilaluinya dari hanya sebuah kain menjadi sebuah karya seni. Motif Batik yang dilukiskan di sehelai kain bukan hanya sekadar hiasan tetapi meyimpan makna dan mengandung cerita.

Salah satu contoh; Batik Jlamprang termasuk dalam batik sakral dalam masyarakat Pekalongan, masih sering digunakan dalam suatu upacara Nyadran yaitu upacara korban di laut untuk menyatakan syukur kepada penguasa alam dalam hal ini Tuhan, mitosnya batik Jlamprang sangat disukai oleh Dewi Lanjar, penguasa laut Pantai Utara Jawa.

Museum Batik Pekalongan

Saat berkunjung ke Kota Pekalongan, kota yang dikenal sebagai A World City of Batik, selain mengunjungi beberapa Kampung Batik sempatkan pula untuk mengunjungi Museum Batik yang terletak di Jalan Jetayu No. 3, Pekalongan.  Museum ini buka setiap hari dari Senin – Minggu dari pukul 08.00 – 15.00 wib, kecuali hari libur Nasional. Cukup dengan membayar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 1.000,- untuk anak-anak, pengunjung sudah dapat menyaksikan beragam kain, sejarah serta proses Batik. Di dalam Museum ini terdapat 4 Ruang Pamer di mana koleksinya akan diganti setiap 4 bulan sekali, yaitu:

  1. Ruang Pamer Temporer yang berisi koleksi dari para kolektor Batik ternama salah satunya milik Ibu Negara, Ibu Ani Yudhoyono.
  2. Ruang Pesisiran, dimana di dalamnya terdapat koleksi Batik Pesisiran seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem. Ciri khusus motif Batik Pesisiran ini terletak dari warna-warnanya yang cerah, bermotif bunga juga ada yang disebut dengan Batik Pagi Sore. Di mana batik Pagi Sore ini mempunya ciri warna kain yang berbeda dalam satu sisi, sehingga bisa dipakai pada waktu pagi dan sore hari. Biasanya yang menggunakan Batik ini adalah keturunan Tiong Hoa. Untuk Batik Pagi Sore yang berwarna dasar Biru, biasa digunakan saat berkabung.

    Ruang Pesisiran

  3. Ruang Nusantara, merupakan ruangan yang memamerkan koleksi Kain Tradisional dari seluruh Nusantara. Sayang saat kunjungan saya kemarin, ruangan ini sedang ditutup karena ada pergantian koleksi.
  4. Ruang Pedalaman, di dalamnya dipamerkan koleksi batik khas Pedalaman yaitu Jogja dan Solo. Dengan di dominasi warna gelap. Perbedaan mencolok antara Motif Jogja dan Solo terletak di warnanya. Untuk Jogja, biasanya kain dominasi warna putih. Sedangkan untuk Solo, kain dasarnya didominasi warna sogan atau gelap.

    Ruang Pedalaman

Selain ke empat ruang pamer tersebut, terdapat juga Ruang Workshop di mana pengunjung dapat melihat atau bahkan terlibat langsung dalam proses panjang pembuatan kain batik. Dari museum ini saya mengetahui dalam proses pembuatan kain Batik, sebuah kain mengalami 12 (dua belas) proses yang panjang dan memakan waktu. 

Teras yang memuat dekorasi proses pembuatan Kain Batik

Yang diawali dengan Nyungging (membuat pola / motif pada kertas), Nyaplak (memindahkan pola dari kertas ke kain), Ngolowong (pelekatan malam dengan canting sesuai pola), Ngiseni (pemberian motif isen / titik pada ornamen utama), Nyolet (pewarnaan bagian-bagian tertentu dengan kuas), Mopok (menutup bagian yang dicolet dengan malam), Ngelir (pewarnaan kain secara menyeluruh), Ngolorod (penghilangan malam dengan merendam kain pada air mendidih), Ngrentesi (pemberian cecek / titik pada klowongan), Nyumri (menutup bagian tertentu dengan malam), Nyoga (pencelupan kain dengan warna cokelat / sogan) dan proses terakhir Ngolorod (penghilangan malam dengan merendam pada air mendidih).

Tempat Pelorodan

Selain pembuatan pola dengan menggunakan canting, pembuatan pola juga bisa dilakukan menggunakan plat / cetakan yang terbuat dari tembaga dan berpola. Kain batik yang dibuat dengan menggunakan plat ini dikenal dengan Batik Cap. Prosesnya pun sama dengan proses pembuatan Batik Tulis.

Canting dalam berbagai ukuran

Plat Cap

Pengunjung Museum Batik bisa turut serta dalam workshop pembuatan Batik, dengan membayar Rp 20.000,- untuk satu paket pelatihan singkat, pengunjung dapat langsung terlibat dalam proses panjang perjalanan kain Batik.

Wadah Canting dan Malam

Wadah Plat dan Malam

Untuk Anda yang berdomisili di Jakarta juga bisa datang ke Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk mengenal lebih dalam mengenai Batik juga ragam kain tradisional dari seluruh propinsi di Indonesia. Di Ruang Pamer Utama, bisa dilihat koleksi beragam kain tradisional seluruh Indonesia baik kain yang dibuat dengan proses tenun ataupun Batik dengan ciri khas masing-masing daerah. Khusus untuk koleksi Batik yang lebih lengkap bisa dilihat di Galeri Batik yang letaknya di gedung terpisah dari ruang pamer utama. Batik yang dipamerkan juga beragam dari daerah Sumatera hingga Jawa.

Ruang Workshop

Selain ke dua ruang tersebut di Museum Tekstil juga terdapat Taman Pewarna Alam yang berfungsi untuk mengenalkan kepada pengunjung tentang pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Pewarna alam ini lazim digunakan oleh para pengrajin kain seluruh Indonesia. Sama halnya dengan Museum Batik di Pekalongan, di Museum Tekstil Anda juga bisa terlibat dalam pembuatan batik yang diadakan di ruangan workshop yang terletak di bagian belakang Museum Tekstil.

Sepertinya tidak cukup waktu sehari untuk bisa mengenal Batik lebih dalam. Mungkin saya harus menyempatkan diri mengunjungi Kampung Batik seperti di Pekalongan, Lasem, Solo maupun Jogja. Kenal dekat dengan pengrajinnya. Saya langsung teringat film dokumenter yang dibuat oleh Mbak Nia Dinata berjudul “Batik, Our Love Story” sebuah film dokumenter yang menceritakan besarnya cinta para pengrajin dengan Batik dan keinginan pengrajin untuk menurunkan sebuah warisan budaya kepada penerusnya.

Penerus dari sebuah tradisi dan warisan budaya, kalau bukan kita, siapa lagi.

::just an ordinary me::


Advertisements