“suatu hari nanti saya pasti akan menginjakkan kaki di Jambi

Kalimat pertama yang terucap kala saya selesai membaca Mengenal Alam & Budaya Sumatera dan ucapan itu pun terkabul. Kali pertama saya ke Jambi di bulan Oktober 2011, perasaan bahagia datang walau kepergian saya ke Jambi adalah dalam rangka pekerjaan yang notabene akan sulit bagi saya untuk bisa punya waktu luang untuk mengeksplorasi Jambi.

Bandara Sultan Thaha

Saya tiba di Bandara Sultan Thaha tepat pukul 07.15 wib, bandaranya tidak terlalu besar sehingga memudahkan dalam mengambil bagasi yang tidak memakan waktu lama hehehe

Karena harus terbang pagi artinya saya belum sempat sarapan, setibanya di Jambi pertanyaan pertama yang terlontar adalah apa menu sarapan yang terkenal di Jambi? Jawabannya adalah Nasi Gemuk dan Mie Celor.

Ada satu tempat Mie Celor yang sangat terkenal di Kota Jambi dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Pemiliknya adalah keluarga keturunan China. Jangan membayangkan tempatnya yang wah dan besar layaknya restoran lain. Warung Mie Celor ini sangat sangat sederhana, tanpa plang nama hanya ada dua etalase yang bertuliskan Nasi Gemuk dan Mie Celor. Bentuk warungnya pun rumah kuno China lengkap dengan ornamennya. Letaknya yang strategis yaitu persis di perempatan Jalan Hayam Wuruk, Jambi membuatnya mudah untuk dicari. Di kali pertama kunjungan saya, saya tidak bisa menikmati lezatnya Nasi Gemuk dan Mie Celor dari warung tersebut karena tempatnya penuh. Kami akhirnya memilih Rumah Kopi “Sari Rasa” yang letaknya persis di sebelah warung Mie Celor Hayam Wuruk. Katanya sih yang punya sama, adiknya yang mengelola Rumah Kopi “Sari Rasa”.

Nasi Gemuk

Tak apalah yang penting saya bisa menikmati Nasi Gemuk sarapan Khas Jambi. Penasaran juga sih kenapa namanya harus Nasi Gemuk? Mungkin maksudnya kalau makan nasi ini saat sarapan jadi gemuk :). Rupa Nasi Gemuk ini mirip sekali dengan Nasi Uduk Betawi dengan nasi yang ditanak dengan santan kelapa juga dilengkapi lauk yang ‘seadanya’ seperti irisan telur, suiran daging dan ayam serta sambal. Penampakkannya sumpah nggak banget, saya dan beberapa teman kantor sempat kaget melihatnya karena seperti nasi yang diacak-acak tapi begitu dimakan…nyeesssss anjrit enak banget. Dan beda dengan nasi uduk, yang ini jauh lebih gurih 🙂

Mie Celor

Penasaran juga dengan rasa Mie Celor akhirnya saya nyicip tetangga yang memesan Mie Celor Daging. Ternyata rasanya unik, kuahnya yang berwarna susu dengan mie yang besar terasa nikmat di lidah. Mienya sendiri dibuat secara tradisional dengan berbahan dasar terigu dengan ditambah beberapa bumbu lainnya. Mienya disaram dengan kuah santan yang tidak terlalu kental lengkap dengan sayuran separti tauge serta diberi irisan ayam dan daging. Rasanya? Luar biasaaaa….menu sarapan yang harus dicoba saat datang ke Jambi.

Wisata kuliner saya pun tidak berakhir hanya di sini saja, saat masuk waktu makan siang kami pun diantar ke suatu restoran kali ini benar-benar restoran. Ibarat kata second gradenya deh hehehe, cukup besar dan bersih. Namanya Ken’n Resto yang menempati sebuah bangunan lama yang masih terawat dengan dominasi warna hijau pupus.

Ken'n Resto

Menu andalan resto ini adalah pindang patin. Disajikan dalam keadaan panas, ikan patinnya sangat lembut di lidah, kuahnya terasa asam dan pedas yang teramu dengan baik. Rasanya tidak cukup makan satu porsi pindang patin, jadinya 2 mangkuk pindang patin ludes saya makan hehehe

Pindang Patin

Di hari terakhir perjalanan, kami pun menyempatkan melihat batik khas Jambi yang bikin bangsawan Eropa kepincut.  Teknik pembuatan batik Jambi tidak jauh berbeda dengan batik di daerah lainnya yaitu tulis menggunakan lilin (malam) serta cap. Yang membedakan hanya motifnya. Motif batik Jambi lebih banyak menggambarkan kehidupan disekitar penduduk Jambi seperti motif tanaman, hewan atau kaligrafi. Motif yang terkenal antara lain: Angso Duo, Duren Pecah, Kaco Piring serta Kapal Sanggat. Saya pun tak luput dengan yang lain dengan membeli satu buah kain batik Jambi cap dengan motif daun.

Batik Besurek - Museum Tekstil

Batik Jambi yang saya beli

Datang ke kota Jambi, sempatkan pula untuk mengunjungi beberapa tempat yang tidak menghabiskan banyak biaya serta waktu diantaranya adalah ke Masjid Agung Al-Falah atau yang dikenal dengan Masjid Seribu Tiang. Masjid Seribu Tiang ini uniknya tidak memiliki dinding atau pintu melainkan tiang penyangga yang terlihat seperti ada 1.000.  Ada yang mau ngitungin jumlah tiangnya?

Selain itu, kita bisa juga menyusuri bantara Sungai Batang Hari menikmati matahari terbit atau terbenam di Sungai Batang Hari. Ada tempat yang bisa dibilang “hip”, namanya Kawasan Wisata Tanggo Rajo atau yang dikenal dengan sebutan Ancol.  Yang letaknya dekat dengan rumah dinas Gubernur Jambi di bantaran Sungai Batang Hari. Kebanyakan penduduk Jambi menghabiskan sorenya di Ancol, menikmati matahari terbenam.

Masjid Seribu Tiang: sumber http://www.panoramio.com/photo/34617470

Perjalanan Jambi saya yang pertama penuh dengan wisata kuliner, karena rasa penasaran kepingin nyoba makan Mie Celor di warung yang pojok Hayam Wuruk itu saya pun ngebatin dalam hati “saya pasti datang lagi ke Jambi” dan mimpi saya pun kesampaian, tepat di penghujung tahun 2011 saya kembali menginjakkan kaki di Jambi, menikmati Mie Celor  idaman dan mengunjungi Kota Bangko.

Jambi saya datang lagi khan 🙂

::just an ordinary me::

Advertisements