Layaknya sebuah perjalanan, saya pun memilih rute saya sendiri dalam membaca “The Journeys”.

The Journeys

Dimulai dengan menginjakkan kaki di Karimun Jawa, kepulauan yang menyajikan keeksotisan alam, terbang ke Lucerne menikmati pagi yang menyenangkan dan secuil bahagia. Saya pun berbalik arah ke Afrika yang penuh warna. Melipir ke Tel Aviv yang penuh dengan keterbukaan, kebersamaan, kemanusiaan dan kedamaian. Bergerak sedikit menuju kota suci umat Islam, bersama Valliant mencoba mencari makna “keyakinan”.

Saya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan merasakan ke mistis-an di Nusa Tenggara Timur. Hal-hal mistis memang tidak bisa diterima oleh akal sehat tetapi bagi penduduk lokal, hal itu merupakan sesuatu yang benar adanya. Lalu mencoba mengubah persepsi di Singapura.

Ah, perjalanan ini pun ternyata membuat saya kelaparan. Saya pun tidak salah pilih untuk berhenti di Shuili, Taiwan. Dan saya menikmati beragam cita rasa kuliner. Slurrp, nyam nyam. Tenaga saya pulih kembali dan saya bisa melanjutkan perjalanan, untuk mengejar mimpi dan mencari keberuntungan di Tanah Andalusia.

Perjalanan nggak selamanya mulus, ada saja kerikil-kerikilnya. Dengan selalu berpikir positif akan memberikan arti lebih dari sebuah perjalanan, seperti saat di Amerika.

Tak terasa perjalanan saya pun mencapai akhir. Perasaan terharu dan tersentuh saat berada di Belanda membuat saya ingin berlari ke rumah dan memeluk Ibu. Mengakhiri perjalanan dengan bersenda gurau manja bersama Ibu.

:: just an ordinary me ::

Advertisements