Books. Foods. Love. Friendship

Mary Ann Shaffer, Annie Barrows

Sebuah surat dari echa untuk teman-teman pembaca

Jakarta, 1 Februari 2011

Dear temans,

Awalnya nih lihat buku ini gara-gara ada notif di email soal rekomendasi dari Ratu Mia. Kaget juga sih tiba-tiba Mia rekomen buku ini, ceritanya tentang apa ya?.

Eh..pas kapan klub buku tahun lalu *bulannya lupa* hahaha Mamih Uci tiba-tiba kasih buku ini. Yang oon-nya diriku tanpa tanya ini buku dari siapa? Ternyata ini punya Mia hahahahaha Maafkan ya Mia, kau sih tak sms dulu :p

Sejak terima buku ini, sudah dikomporin terus nih sama empunya untuk baca tetapi karena lagi nunggu mood yang Oke untuk baca buku ini, baru kesampaian dah di baca Januari ini.

Kisah dimulai dengan sebuah surat dari Julie Ashton, penulis yang sedang mengalami “writers block”, kepada agen-nya Sidney Stark ditahun 1945-an. Sumpah, pas baca di awal-awal bosen abis…terus ini kenapa kok isinya surat-suratan semua? Terus buku-buka halaman sampai akhir baru sadar kalau ini ternyata Epistolary Novel, cerita yang ditulis dengan menggunakan gaya penulisan surat menyurat.

Saya tahu Epistolary Novel ya gara-gara pas baca Daddy Long-Legs, salah satu teman gue Dini memberitahu kalau penulisan dengan gaya spt itu namanya Epistolary Novel.

Lanjut lagi tentang kisah di buku ini. Hidup Julie pun berubah saat menerima sebuah surat dari Dawsey yang berasal dari Pulau Guernsey, sebuah pulau kecil yang luasnya sekitar 78 km2 dan terletak di selat Channel. (Kalau bingung pulau ini ada di mana, silakan berdunia maya mencari pulau ini. Gue juga ampe wiki-an nyari pulau ini, jadi kalain tidak sendiri kok hahahaha.) Semenjak itu, surat-surat pun berdatangan dari teman-teman Dawsey, membuat Julia dekat dengan kehidupan penduduk Guernsey dan menjadi bagian dari The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society. BTW perkumpulan ini mengingatkan gue akan Klub Pengunyah, membahas buku sambil mengunyah hahahaha

Akhirnya gue bisa menikmati kisah yang tertuang dalam surat-surat yang ditulis semua karakter di buku ini. Melalu surat-surat ini, gue mengenali karakter masing-masing dan menyelami kehidupan masing-masing karakter. Sempat terpikir gue tidak akan terbawa emosi ternyata emosi gue hancur saat membaca sebuah surat dari satu karakter bernama Remi. Gue pun ikut merasakan apa yang di alami dari semua karakter dalam buku ini. Gaya penulisan yang asik, tidak terkesan terburu-buru, mengalir sampai ke satu titik. Sempurna.

Terima kasih Mi untuk rekomedasi buku-nya. Buku ini akan kembali selamat ke tempat mu 🙂 Layaknya penduduk Guernsey, dari buku pun kita bisa menjalin persahabatan.

Salam hangat,
Echa

::just an ordinary me::

Advertisements