The Tree of Seasons karya Stephen Gately

Jujur, saat tahu Stephen Gately menulis buku saya tidak ingin menaruh ekspetasi yang sangat tinggi. Ya memang karena saya merasa tidak yakin dengan kemampuan Sang Penulis dalam membuat cerita.

Ternyata dugaan saya salah besar, saat membuka buku ini di halaman pertama saya sudah disuguhkan cerita yang indah. Ceritanya simpel, sangat simpel malahan. Tipikal cerita anak yang penuh dengan fantasi, petualangan. Dan penuh dengan makna tersirat.

Saya takjub dengan penuturan kata-kata dalam buku ini, mantra-mantra yang dibuat dalam bentuk puisi dan berima. Indah.

Petualangan 3 anak yang tanpa sengaja masuk ke dalam hutan dan bertemu dengan berbagai macam makhluk legenda; Goblin, peri, kurcaci, ghaoul, dan lain-lain.

Saya suka saat Penulisnya mulai menggambarkan keindahan dari alam, keindahan dari setiap musim. Seakan tempat tersebut merupakan tempat terindah di alam semesta.

Penulisnya memberitahukan dengan gaya cerita anak-anak bahwa kerusakan alam itu terjadi karena satu tokoh jahat bernama Gridelda yang serakah. Pada bagian ini saya berpikir, toh orang-orang yang serakah lha yang memang senang merusak alam.

Saat saya sampai di akhir cerita saya menemukan satu pesan yang tersirat dari Penulisnya yang sejak awal sudah dihembuskan perlahan. Bahwa semua makhluk hidup di bumi harus hidup berdampingan dan saling menghormati.

Mortals must also appreciate that they have to exist in harmony with their climate. If they do not cherish the natural earth they share, and take responsibility for its natural earth they share, there are many others like Gridelda who wait for the right opportunity to destroy what humankind takes for granted. p.295

:: just an ordinary me ::

Advertisements