sebuah puisi karya Joko Pinurbo

***

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih
megap-megap oleh ciuman senja.

“Mengapa kautinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu?Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja
berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak.

***

Puisi dikutip dari blog JokPin (Joko Pinurbo)

:: just an ordinary me ::

Advertisements