Karya Chris Badford

Seorang bocah Inggris, Jack Fletcher, berusia 12 tahun, anak dari nahkoda kapal “Alexandria” John Fletcher. Yang karena keadaan harus bertahan hidup di negeri asing bernama Jepang.

Jack, beruntung diselamatkan oleh Keluarga Samurai di daerah Toba, Masamoto. Dalam lingkungan Masamoto lah, Jack belajar banyak. Belajar menjadi seorang samurai dan belajar memahami kehidupan.

Cerita dalam buku ini gampang sekali ditebak bagaimana akhirnya. Tapi itu tak menyurutkan saya untuk melanjutkan membacanya. Penulisnya sangat cermat meramu cerita, khususnya untuk bagian seni bela diri. Penulisnya menggambarkan sangat detail, setiap gerakan kaki, badan, tangan, kepala betul-betul autentik. Layaknya saya sedang menonton film silat jepang dalam slow motion. Selain itu banyak sekali petuah kuno samurai yang diterangkan penulis. Yang mendasar adalah Bushido Jalan Kesatria yang dikenal dengan Tujuh Prinsipnya. Tujuh Prinsip dalam bela diri samurai dan menjalani kehidupan sehari-hari yaitu:Prinsip 1; Gi, Integritas adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang benar dan keyakinan moral dan untuk bersikap adil dan sama kepada semua orang tanpa memedulikan ras, warna kulit, gender dan usia.

Prinsip 2; Yu, Keberanian adalah kemampuan untuk mengatasi setiap keadaan dengan keberanian dan keyakinan.

Prinsip 3; Jin, Welas Asih adalah gabungan antara kasih sayang dan kemurahan hati.

Prinsip 4; Rei, Hormat. Prinsip ini berarti menghormati orang lain.

Prinsip 5; Makoto, Kejujuran artinya bertingkah-laku yang benar secara moral dan selalu melakukan hal-hal dengan kemampuan terbaik.

Prinsip 6; Meiyo, Martabat. Dicapai dengan sikap positif dalam berpikir serta mengikuti perilaku yang tepat.

Prinsip 7; Chungi, Kesetiaan adalah dasar dari semua prinsip; tanpa dedikasi dan kesetiaan pada tugas yang sedang dikerjakan dan kepada sesama, seseorang tak dapat berharap mencapai hasil yang diinginkan.

Tujuh prinsip itu hanya sebagian filosofi yang saya temukan dalam buku ini. Masih ada banyak petuah-petuah yang mungkin terasa simpel tapi memberikan efek luar biasa bagi yang membacanya (cat: diri saya sendiri). Ini contohnya;
“Teman tidak dipisahkan oleh perbedaan. Mereka justru bersatu karena perbedaan”
P 296

Saya masih ingin belajar banyak dari kehidupan Para Samurai dari mata Chris Badford, jadi langsung lanjut baca buku ke duanya “Kendo”.

::just an ordinary me::

Advertisements