karya Anindita S. Thayf

 

Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah”

Dari manakah Gw harus memulai untuk membagi perasaan di kala membaca buku ini? Jujur gw banyak kehilangan kata saat menbaca buku ini, rangkaian kata-kata yang ditulis Anin sangat Indah. Mengantar secara perlahan ke sebuah Tanah Tabu, di ujung timur Indonesia. Kehidupan penduduk di Tanah Tabu khususnya Kaum Perempuan, yang banyak membuat gw terkejut. Begitukah perempuan diperlakukan di Tanah Tabu? Tidak ada artinya kah Perempuan di Tanah Tabu?

Secara tersirat Anin, mengungkapkan ke permukaan masalah-masalah pelik yang terjadi di Tanah Tabu.  Sikap para pendatang, pemerintah serta penduduk aseli melalui pandangan seorang perempuan bernama Mama Anabel yang dipanggil Mabel. Mabel yang mengajarkan tentang kehidupan tanpa terkesan menggurui.

Uniknya, Anin tidak menggunakan sudut pandang Mabel sendiri tetapi melalui sudut pandang Pum, Kwee dan Aku; Leksi. Sehingga kita tanpa disadari mengenal sosok Mabel dalam pandangan mereka masing-masing, yang menilai sosok Mabel dengan cara mereka sendiri.

Dan, pada kita semua, Mabel berpesan. “Kita harus tetap kuat…Jangan Menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

:: just an ordinary me ::

Advertisements