oleh Ahmad Tohari

Membaca “Bekisar Merah’ setelah mengenal sosok penulis bernama Ahmad Tohari melalui karya triloginya “Ronggeng Dukuh Paruk”. Saya melihat banyak kesamaan dari kedua buku ini, menjadikan sosok wanita sebagai tokoh sentral yang hidupnya dirundung banyak permasalahan kompleks. Kok, saya terkesan di kedua buku tersebut, wanita menjadi objek ya? Objek nafsu, objek penderitaan dan menjadi sosok yang lemah. Apa karena di buku ini, mengangkat kehidupan di zaman dahulu di mana wanita belum mempunyai banyak andil?

Tokoh Lasi dalam “Bekisar Merah”, yang sejak kecil terus di-olok-olok hanya karena Lasi “berbeda”? Apa salahnya jadi berbeda? Apa karena Lasi tinggal di dusun bernama Karang Soga, sehingga perbedaan itu menjadi nyata?

Lasi selalu hidup di bawah gunjingan orang-orang Karang Soga bahkan saat Lasi sudah berusaha untuk tidak menjadi berbeda, menjadi sama seperti penduduk Karang Soga. Menjadi istri penyadap nira, yang ternyata tanpa Lasi sadari membawa Lasi kedalam keterpurukan yang lebih dalam dan menuntunnya untuk datang ke Jakarta. Lalu, Jakarta sama baik kah buat Lasi? Tidak, kecantikan fisik membuat Lasi menjadi “Bekisar Merah” yang menjadi hiasan dalam sangkar untuk orang-orang kaya. Dan, Lasi terlambat untuk menyadari semua itu, hidup dalam kebimbangan yang akhirnya hanya Lasi sendiri yang bisa menentukan kemanakan arah hidup yang akan Lasi inginkan.

Saya beri 3 bintang dari 5 bintang dan tambahan 1 bintang, untuk penggambaran alam oleh Ahmad Tohari yang detil. Membuat saya rindu akan keindahan alam pedesaan.

:: just an ordinary me ::

Advertisements