Orang dewasa tidak ingat lagi, bagaimana rasanya,
menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu.
Mereka tidak tahu lagi. Percayalah padaku.
Mereka sudah lupa semuanya.
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka.
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi.
Bagaimana rasanya kalau harus selalu menengadah?
Lupa.
Mereka tidak tahu lagi.
Kau pun akan melupakannya.
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya
ketika mereka masih anak-anak.
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?
Tahukan kau?
Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

Kata-kata ini mengawali kisah yang terjalin di buku ini. Kisah tentang kakak beradik yatim piatu Prosper & Bo, yang meninggalkan rumah Bibinya menuju kota rembulan, Venezia. Kota yang selalu mereka ingin datangi dan mimpikan hanya dengan mendengar cerita ttg Venezia dari sang Ibunda.

Kehidupan Prosper & Bo berubah saat di Venezia mereka bertemu dengan Riccio, Mosca & Tawon serta Scipio yang selalu menyebut dirinya Pangeran Pencuri. Yang menghidupkan ke 4 temannya dari hasil mencuri.

Pertualangan semakin seru saat Bibi Esther, Ibu Angkat Prosper & Bo menyewa seorang detektif handal, Victor Getz. Dan itu belum cukup. Seorang pedang antik yang tukang tipu, seorang conte yang misterius dan seorang fotografer wanita aneh, melengkapi petualangan mereka.

Membaca buku ini benar-benar membuat gw berada di Kota Rembulan Venesia. Penggambaran Venesia detil sekali digambarkan oleh Cornelia Funke. Tidak sekedar menceritakan fantasi tapi di sini Funke menyelipkan bagaimana Prosper sebagai kakak melindungi adiknya. Pertemanan yang tulus. Dan menunjukan bahwa orang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sekarang. Anak-anak yang ingin cepat dewasa karena peraturan yang mengekangnya dan orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanaknya karena merasa masa kanak-kanaknya tidak sebahagia yang dipikirkan.

Cerita ini sudah difilmkan lho, tapi sayang sampai sekarang gw belum nonton filmnya. Dan membaca buku ini yang terjemahannya juga sangat lincah, membuat gw semakin berhasrat untuk menonton filmnya. Sayang waktu acara World Book Day kemarin ada nonton bareng buku ini, gw gk bisa hadir hiks.

:: Just an ordinary me ::

Advertisements